<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089</id><updated>2012-01-05T15:11:25.592+07:00</updated><title type='text'>Mr.Qwerty</title><subtitle type='html'>just secret story</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://old-letters.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-6407934680249711959</id><published>2012-01-05T15:11:00.002+07:00</published><updated>2012-01-05T15:11:25.608+07:00</updated><title type='text'>mengharukan</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir  sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah  benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,  membuatku membenci suamiku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Walaupun  menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun  membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku  terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa  kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan  finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi  suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk  putri satu-satunya mereka.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Ketika menikah, aku  menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku.  Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar  menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya  karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia  lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga  tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan.  Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak  suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal  melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan  meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku  meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia  menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai  pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia  menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang  dengan teman-temanku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Tadinya aku memilih untuk  tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus  anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya  ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa  minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan  baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak  menggugurkannya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Itulah kemarahanku terbesar  padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak  kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya  melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia  melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya  bersama kedua anak kami.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Waktu berlalu hingga  anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi  sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah  menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan  pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan  kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab  dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan  peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir  di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga  membenci kedua orangtuaku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sebelum ke kantor,  biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari  itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut.  Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut  tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di  depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Ketika  mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke  salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam  kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang  tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan  kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun  betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di  rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak  menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang  terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan  bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang  jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa  menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja  kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Dengan  marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya  selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan  meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak.  “Apalagi??”&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan  ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya  suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama  salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.  Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang  membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah  membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku  kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku  ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera  sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga  mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah  berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering  teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara  bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon  suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu  memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak  armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata  seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan  saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya  terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku  berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang  kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya  ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana  juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya  diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku  tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan  segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat  ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan  menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena  kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan  kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan  kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada  airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah  ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi  kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku  termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar  menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan  kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa  yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.  Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali  pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum  hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap  berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku  padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis  tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti,  airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam  mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti  menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang  telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku  hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang  kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi  terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen  mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku  sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak  pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak  disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie  instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia  mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak  untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak  perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan  masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari  karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi  permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau  jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Saat   pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat  tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu  apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan  rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan  sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka  kehilangan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Hari-hari yang kujalani setelah  kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan  tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di  hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring  kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat  hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.  Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya  seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok  menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang  meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah,  membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku  menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan  sosoknya di sebelahku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Dulu aku begitu kesal kalau  tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering  terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia  sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar  tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia  melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out,  sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas  jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia  membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa  di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang  biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku  berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua  kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku  dan aku sudah terkena panah cintanya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Aku juga marah  pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun  ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana  meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa  menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang  membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun  kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf,  meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi  padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada  suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku  sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu  banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang  selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung  mereka setelah kepergian suamiku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Empat puluh hari  setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari  keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali  rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah  bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini  aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia  transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap  bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja,  aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika  melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya  ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun  menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh  uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah  bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja  atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan  kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi  bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali.  Semuanya selalu diatur oleh dia.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Kebingunganku  terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris.  Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat.  Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku  dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang  membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Istriku Liliana tersayang,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena  harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf  karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah  memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak  adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku  tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku  telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku  tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan  tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan  mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat  hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu  untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.  Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang  lebih baik dariku.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Teruntuk Farah, putri tercintaku.  Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik  seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.  Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian  berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Aku  terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang  diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi  dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku  membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha  tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang  kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar  cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap  membanjiri kami dengan cinta.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Aku tak pernah  berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu  menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi  hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku  pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun  meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-6407934680249711959?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/6407934680249711959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/6407934680249711959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2012/01/mengharukan.html' title='mengharukan'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-3094771476756185646</id><published>2011-12-27T20:24:00.000+07:00</published><updated>2011-12-27T20:24:11.520+07:00</updated><title type='text'>good respon</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;gua udah nyampei apa yg gua mau sampein, dan ternyata cewe gua ngerti dan ngerespon baik. gue seneng kalo bisa gtu, klo gini kesananya bakalan lebih baik dah amin &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-3094771476756185646?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/3094771476756185646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/3094771476756185646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/good-respon.html' title='good respon'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-5435492380209569738</id><published>2011-12-27T19:43:00.000+07:00</published><updated>2011-12-27T19:43:30.728+07:00</updated><title type='text'>feel this afternoon</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: black; color: white; font-family: inherit;"&gt;hari sebenernya baik baik aja, mulai dari pagi sampe tadi sore ketemu sama temen temen di ngopdoel. temen ngeliatin chat cewe gue sama temennya temen gue. gapapa sih klo chatnya kaya biasa, tp ini beda, serasa mesra bgt. dan dia tuh bangga bisa chat dan deket sma cewe gua, ga seneng lah gua sebagai cowonya, gue jealous men. guie mulai tanya tanya sma cewe gua secara tersirat tentang dia, ternyata cewe gua ngerespon yg ga gua harepin, dia tiis lagi kya biasa, kayaknya cewe gua ini ga peduli kalo udah bete. tapi skarang chat jd berenti karna cewe gua abis batre katanya. yaudah gapapa, gue tunggu, dan gue ga sabar pengen ngasih tau lebih lanjut, ngasih tau apa yg gua gasuka, ngasih tau apa perasaan gua. dan satu lagi, kemaren malem waktu gua ditiisin sama cewe gua, dia lagi chat sma cewe gua, dan klatanya deket bgt. gimana gua ga bete, ga kesel coba. gua sebagai cowonya kalah, ga ada harganya, ga dipeduliin, diacuhin dibanding sama dia si ikbal namanya. sebenrnya yang salah cewe gua karna gamau ngasih tau kalo dia udahn punya gua, tp ya gua gabisa larang itu, itu hak cewe gua. tp karna cewe gua ga ngasih tau klo udah punya gua, dia jadi ada yg deketin, trus lagi cewe guanya juga ngerespon yg baik yg makin buat si ikbal berharap bisa jadi pacarnya, percakapan sering, deket lagi. sedangkan gua? walaupun sering tp lebnih sering tiis juga ke gua. gua gamau cewe gua diambil, dan gua gasuka kalo hubungan gfua diganmggu kaya gini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white; font-family: inherit;"&gt;ya semoga aja abis gua lanjutin, cewe gua sadar, dan gaada yg ganggu hubungan gua lagi &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-5435492380209569738?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/5435492380209569738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/5435492380209569738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/feel-this-afternoon.html' title='feel this afternoon'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-8997811873431536073</id><published>2011-12-27T00:30:00.003+07:00</published><updated>2011-12-27T00:32:08.528+07:00</updated><title type='text'>hiburan</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" id="ur5tdj_9"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="translationEligibleUserMessage"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;TEST IQ MEMB&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Dibawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; satu pertanyaan bonus. Jawablah&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; sedetik, jawab segera. OK? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Ayo cari tahu, seberapa pintar anda… . Siap? GO!!! &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Pertanyaan pertama:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Anda ikut berlomba. Anda menyalip orang di&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; posisi nomor dua. Sekarang posisi anda nomor berapa?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; anda SALAH BESAR! Jika anda menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang ada di posisi nomor dua! &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jangan ngaco lagi, ya?.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang jawab pertanyaan kedua, tapi jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan pertama tadi, OK ? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Pertanyaan Kedua:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jika anda menyalip orang di posisi terakhir,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; sekarang anda di posisi…? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jawaban: Jika anda menjawab anda orang&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; kedua dari terakhir, anda SALAH LAGI… Coba, bagaimana caranya menyalip orang&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; TERAKHIR? Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, ‘ kan? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Pertanyaan ketiga:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;  Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.  JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator. Cobalah. Ambil 1000  dan tambahkan 40 padanya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang tambahkan 1000 lagi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang tambahkan 30 . ! &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Tambahkan 1000 lagi. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang tambahkan 20. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang tambahkan 1000&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Sekarang tambahkan 10.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Berapa totalnya? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Apakah hasilnya 5000 ? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jawaban yang benar adalah 4100.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Hari apes, ‘kan? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar…….Mungkin. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Pertanyaan keempat:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Ayah Mary punya lima anak: 1. Nana, 2. Nene, 3. Nini, 4. Nono. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Siapa nama anak kelima? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Apa anda menjawab Nunu?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; BUKAN! Tentu saja bukan. Anak kelima&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; namanya Mary. Baca lagi pertanyaannya! &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Okay, sekarang ronde bonus:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; membeli sikat gigi. Dengan menirukan orang&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi… &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya? &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu… He..he..he…&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; *ide konyol&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" id="ur5tdj_9"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="translationEligibleUserMessage"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;dan sampe skarang, pertanyaan ke 3 masih belom ngerti... &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-8997811873431536073?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/8997811873431536073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/8997811873431536073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/test-iq-memb-dibawah-ini-ada-empat-4.html' title='hiburan'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-6838205055226048061</id><published>2011-12-26T20:23:00.000+07:00</published><updated>2011-12-26T20:23:06.350+07:00</updated><title type='text'>end of this day</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: black; color: white;"&gt;semua kata kata aku katakan, semua perasaan, semua rasa sakit sudah aku katakan. rasanya lega, tapi aku siap nerima apapun keputusan dia. dan tolong masalah kaya gini jangan sampai ada lagi. memang kalo satu hubungan tuh pasti ada cobaannya, tapi tolong jangan datang lagi.&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;cukup untuk hari ini saja..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-6838205055226048061?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/6838205055226048061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/6838205055226048061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/end-of-this-day.html' title='end of this day'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-4582502103479096145</id><published>2011-12-26T20:02:00.001+07:00</published><updated>2011-12-26T20:02:56.106+07:00</updated><title type='text'>after 20.00</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;berdebat sama dia, ya aku tidak membela diri sendiri, tapi inginnya bisa buat dia jujur dan ga bete lagi. bbman, tiis tiis tiis dan tiis, aku biasa, tapi aku ga tahan klo dia terus terusan kayak gini, dan dia tadi bilang kalo aku bikin bete hanya dari sekian persen dia bete, tapi aku ga percaya karna setelah chat denganku dia tiba tiba tiis dan bete, dan 1 lagi, dia ngga tiis kalo chat sama temen temennya yang lain, dan asik bgt diliatnya. tadi, untuk keberapa kalinya aku tanya hari ini, aku tanya kalo dia masih mau chat atau engga, dan dia selalu jawab mau, tapi ya begitulah. sebenarnya ini bisa disebut "balas dendam" kepadaku, tapi pikiran ini harus aku buang jauh jauh. keep positive thinking! aku sangat sayang dia, tapi aku ga tau apa perasaannya saat ini, mungkin benci, ya sangat mungkin. sebenarnya aku ingin sekali menangis, tapi selalu aku tahan. aku sudah sakit, lelah, tapi dituntut tak boleh menyerah &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-4582502103479096145?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/4582502103479096145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/4582502103479096145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/before-2000.html' title='after 20.00'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-8392803407862280442</id><published>2011-12-26T19:45:00.002+07:00</published><updated>2011-12-26T19:52:22.172+07:00</updated><title type='text'>bad day</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;hari ini hari yg buruk. seperti kehilangan kebahagiaan. pagi pagi, suasana masih menyenangkan, semakin siang semakin tidak menyenangkan. kira kira siang hari aku aku chat sama pacar. tga tau salah ngomong atau apa, tapi tiba tiba moodnya down drastis. dia bede sebete betenya. hari hari yg biasanya bagus, seru karna chat sma dia, tp hari ini ga rame bgt. biasanya selalu minta ga dikacangin, tp ini minta dikacangin. sebenernya kesel di tiisin, di betein, tp inget janji klo bakalan ikhlas, jadi ya ridho ridho aja. sampai malem ini dia masih marah dan bete, tp setiap ditanya pasti bilang enggam, gtau knapa. sampai malem ini ternyata perkiraan bener kalo dia marah karna aku. dari cara jawab pertanyaan dan ga pernah bales nanya, tweet2 yg ditulisnya, dan mungkin spele tp penting yaitu menghapus aku dari lokasi (tersirat) dr&amp;nbsp; twiternya. sebenernya seneng itu gampang asal dia juga seneng. tp dari awal dia udah ga ngeliatin kalo dia masih sayang, sebenernya dari dua hari yg lalu tanda tandanya muncul. berusaha menghibur tapi ga ngefek. udah terlanjur sakit, pasrah, dan janji klo aku ga bakalan ninggalin dan bakalan ikhlas jadi satu satunya penenang untuk malam ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;kayaknya akan ada sedikit hiburan kalo keluargaku bakalan pergi maen, tp ga jadi cuma gara gara bakalan macet. dan ini nambah bikin kesel dan bete aja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="background-color: black; color: white;"&gt;dan.. berdoa supaya dapet ketenangan dan besok, hari bakalan lebih senang, dengan harapan dia kembali happy. just that!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-8392803407862280442?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/8392803407862280442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/8392803407862280442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/hari-ini-hari-yg-buruk.html' title='bad day'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8583141510142073089.post-7941193339975427281</id><published>2011-12-25T18:13:00.002+07:00</published><updated>2011-12-27T20:26:25.666+07:00</updated><title type='text'>fist time</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: black; color: white;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="background-color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: black; font-family: inherit;"&gt;ini kali pertama aku menulis di blog yang baru dibuat beberapa saat yang lalu. sebenarnya aku tidak tahu harus menulis apa&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: black; font-family: inherit;"&gt; sebenarnya tujuan aku membuat blog ini yaitu untuk tempat aku bercerita   pada diri sendiri, berbeda dengan yang lain, yg ingin blognya dikenal   semua orang. aku justru ingin blog ini tidak diketahui siapapun, alias   rahasia, karna sebenarnya hanya ini satu satunya tempat yg bisa tidak   diketahui oleh orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8583141510142073089-7941193339975427281?l=old-letters.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/7941193339975427281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8583141510142073089/posts/default/7941193339975427281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://old-letters.blogspot.com/2011/12/ini-kali-pertama-aku-menulis-di-blog_25.html' title='fist time'/><author><name>Mr.Qwerty</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13767044768927081620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
